Alexander 88

Just another WordPress.com weblog

Pendidikan: Bagaimana memilih Perguruan Tinggi Terbaik


Mulai awal tahun 2008 perguruan tinggi sudah marak mempromosikan program studinya, lulusan SMU sudah melirik-lirik perguruan tinggi mana yang akan dipilih. Reputasi perguruan tinggi terbaik akan menarik calon-calon mahasiswanya dengan mudah. Masyarakat akan melihat sebuah perguruan tinggi dari kualitas kinerja akademiknya. Pertanyaannya, sejauh mana kita menemukan perguruan tinggi yang memiliki kinerja akademik terbaik, apa ukurannya dan bagaimana kita melihatnya?

Supaya tidak terjebak dalam memilih perguruan tinggi yang memiliki kinerja akademik terbaik, Dr. Jaka Sriyana dalam workshopnya di Plaza Jogya melihat kualitas kinerja akademik dari lima (5) poin di bawah ini:

  1. Apakah perguruan tinggi tersebut menawarkan kualitas?
  2. Apakah perguruan tinggi menciptakan motivasi tinggi?
  3. Bagaimana dengan kualitas dosen-dosennya?
  4. Apakah perguruan tinggi tersebut memiliki prospek untuk pertumbuhan di masa yang akan datang?
  5. Terakhir, apakah perguruan tinggi tersebut memiliki ’excellent leadership’?

Tidak banyak perguruan tinggi yang menawarkan kualitas kinerja akademiknya. Malahan, ada beberapa perguruan tinggi yang menawarkan lulus dari perguruan tinggi dengan cepat, langsung kerja, murah. Ada juga dengan brosur yang aduhai, promosi besar-besaran namun apakah telah diiringi dengan performansi akademik yang berkualitas?

Kualitas akademik itulah yang sedang dibenahi perguruan tinggi sekarang sejalan dengan PP no. 19/2005 bahwa suatu perguruan tinggi minimal harus memenuhi standar nasional pendidikan, biarpun masih ada diantaranya yang mengangggap SNP ini hanyalah wacana.

Apakah Standar Nasional Pendidikan itu?

Peraturan Pemerintah telah memberikan delapan standar nasional pendidikan yang perlu ditaati oleh semua perguruan tinggi di Indonesia menurut Prof. Dr. Johannes Gunawan SH., LL.M sebagai sekretaris Majelis Pendidikan Ditjen Dikti Depdiknas pada salah satu workshopnya di Kopertis IV Jawa Barat, bila perguruan tinggi tsb. memenuhi kedelapan kriteria saja baru mendapat nilai C, kurang dari itu dianggap tidak terakreditasi. Sedangkan bagi perguruan tinggi yang memenuhi kedelapan standar dalam SNP, dan mampu mencapai standar rata-rata perguruan tinggi secara nasional maka peringkatnya B sedangkan untuk A harus mampu di atas rata-rata PT secara nasional atau memiliki peringkat internasional.

Kedelapan standar yang harus dipenuhi memang membuat PT di Indonesia jelas kedudukannya dan poin-poinnya biasa saja yaitu mengenai: standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan.

Ketegasan pemerintah dengan peraturannya dapat membuat perguran tinggi sadar bahwa SNP mutlak untuk dilaksanakan di setiap perguruan tinggi. Hanya bisakah dilaksanakan dalam waktu dekat? Yang paling mudah adalah melihat kinerja kualitas perguruan tinggi yang nampak dari luar, urusan intern untuk mendapat akreditasi C, B atau A susah untuk dilihat selama ada rekayasa dan belum tegaknya peraturan di bumi pertiwi tercinta ini.

Dalam hal ini perguruan tinggi yang kinerjanya sesuai dengan SNP akan mendapat nilai A dan yang melebihi rata-rata standar di wilayah hukum Indonesia akan mendapat B dan perguruan tinggi yang

Kualitas Perguruan Tinggi Eksternal

Sebuah perguruan tinggi dapat dilihat kualitas eksternalnya menurut Dr. Sriyana dari beberapa poin:

  1. Apakah anggapan mass media tentang perguruan tinggi tersebut secara umum positif atau tidak?
  2. Apakah perguruan tinggi tersebut visible di mass media
  3. Apakah perguruan tinggi tersebut merupakan perguruan tinggi yang bertanggung jawab sebagai anggota masyarakat?

Selain masyarakat dan mass media melihat suatu perguruan tinggi, ada hal lain ialah dengan melihat sembilan butir dimensi pergurutan tinggi yang menyangkut:

  1. Kepuasan mendapat pendidikan dari mahasiswa tersebut.
  2. Pengembangan akademik mahasiswa
  3. Pengembangan karir mahasiswa
  4. Pengembangan individu mahasiswa
  5. Kepuasan para pelaku administrasinya
  6. Pengembangan profesi
  7. System keterbukaan dan interaksi komnunitasnya
  8. Kualitas sumber daya
  9. Kesehatan organisasinya

Sekarang masyarakat telah pandai memilih dan dalam memilih peguruan tinggi, poin-poin di atas bisa ditambahkan sebagai bahan pertimbangan masuk putra-putri tercintanya ke perguruan tinggi.

Dadang Iskandar

Dosen Institut Manajemen Telkom Bandung (d/h Sekolah Tinggi Manajemen Bandung)

Mei 21, 2008 - Ditulis oleh alexander270351 | Uncategorized | | 1 Komentar

1 Komentar »

  1. Kalau pendapat saya pribadi sih, sebenarnya semuanya balik lagi ke anaknya. Kalau emang niat sekolah n’ usaha sih pasti sukses dimanapun dia meneruskan pendidikan….Ok

    Komentar oleh ratri | Mei 28, 2008


Tinggalkan komentar