sepeninggal sophan sophiaan
SELAMAT JALAN SOPHAN SOPHIAAN:
DAPATKAH SERATUS TAHUN HARI KEBANGKITAN NASIONAL MEMACU PENDIDIKAN UNTUK MEWUJUDKAN CITA-CITA SEORANG SOPHAN SOPHIAAN?
Budi Utomo dkk. terkenal sebagai tokoh kebangkitan nasional, 100 (seratus) tahun kemudian Sophan Sophiaan yang selalu berjuang supaya Negara ini sejahtera telah wafat dalam perjalanan cita-citanya yang masih seperti hutan rimba belantara. Dapatkah seratus tahun hari kebangkitan nasional memacu pendidikan di Indonesia untuk mewujudkan cita-cita beliau pada era informasi sekarang ini?
Pendidikan sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan bangsa, selama pemerintah dan bangsa ini belum serius memperhatikan pendidikan jangan harap kesejateraan dapat terwujud dengan mulus.
Pendidikan Bangsa sejak bedirinya Budi Utomo
Budi Utomo sebagai bapak kebangkitan nasional telah memberikan inspirasi kepada bangsa ini sejak 1908. Mereka mendorong para pemuda untuk dapat melepaskan diri dari cengkraman penjajah. Sehingga, sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 telah mempersatukan mereka untuk bersama-sama menjadi sebuah komitmen bangsa. Akhirnya, dengan perjuangan yang gigih dan usaha serta tekad yang bulat, kemerdekaan tercapai pada tanggal 17 Agustus 1945 dan dengan tegas kita sangat menentang segala bentuk penjajahan di muka bumi ini seperti tertera dalam Pembukaan UUD 45.
Dampak dari komitmen tersebut kita berbeda dengan Negara tetangga yang mempunyai commonwealth sebagai penanggung jawab pembangunan di Negara tersebut dan sampai saat ini terlihat dampaknya yang jauh berbeda sekali dengan bangsa kita yang merdeka dengan jerih payah, kucuran darah dan keringat para pahlawan bangsanya.
Di Negara tetangga, pembangunan dengan tepat diarahkan kepada pendidikan, Malaysia hampir 40 % anggarannya diarahkan untuk SDM termasuk pendidikan di dalamnya. Sebaliknya Negara kita untuk mencapai anggaran pendidikan 20 % saja sangat sulit dan baru sekitar 11 % saja anggaran pemerintah untuk pendidikan di Indonesia. Kita masih menunggu komitmen bersama dari semua pihak.
Bagaimana Singapur melepaskan diri dari Malaysia dengan konsep sebuah Negara yang dimulai dengan pendidikan sumber daya manusianya.
Pendidikan ini tidak berjalan dengan baik bila negaranya dalam keadaan karut-marut. Keamanan nasional ditegakkan dengan sebaik-baiknya, sehingga Singapur terkenal sebagai sebuah Negara dengan tingkat kriminalitas yang sangat kecil. Di setiap lorong masuk stasiun kereta bawah tanah ditulis kurang lebih, “Angka Kriminilitas Singapur terkecil di dunia tapi bukan berarti kita lengah dari para criminal. Laporkan segera bila ada orang yang mencurigakan” dan segalanya diatur oleh pemerintah dengan aturan yang sangat ketat dan memaksa warganya untuk patuh dan bukan untuk melanggar.
Pendidikan Era Sophan Sophiaan
Sophan Sophiaan dengan tegas mengundurkan diri sebagai anggota DPR karena melihat ‘penuh kebohongan’ di parlemen bangsa ini. Alangkah memalukan bila hal itu benar, wakil rakyat yang dipercaya untuk memikirkan kesejahteraan bangsa ini mengelabui keinginan perut bangsanya sendiri.
Beliau ingin bangsa ini sejahtera dan ada Sophan Sophiaan lain yang akan berjuang untuk mewujudkan kesejahteraan bangsanya.
Mengapa kita mengimpor buah-buahan padahal Negara kita agraris dan kaya? Ternyata salah satu unsur untuk mensejahterakan rakyatnya tidak dikelola dengan baik. Infrastruktur untuk memudahkan hasil panen rakyat ke kota sudah tidak memadai karena jalannya rusak dan tidak ada perlindungan terhadap kepentingan para petani. Dan, banyak hal lain yang perlu segera dibenahi terutama bidang transportasi, infrastruktur, keamanan dan pendidikan SDMnya.
Politik memang perlu. Anggaran untuk kepentingan politik begitu besar sedangkan kepentingan perbaikan jalan saja tidak sebesar kebutuhan untuk kampanye pilkada.
Kontribusi Perguruan Tinggi sangat diperlukan karena Perguruan Tinggi lah sumber pengembangan pendidikan bangsa. Pendidkan Tinggi perlu segera memberi masukan baik secara teoritis maupun survey di lapangan. Dalam hal ini, Dirjen Dikti dalam Rencana Strategisnya men’drive’ perguruan-perguruan tinggi untuk memiliki tata kelola institusinya dengan sebaik-baiknya.
Jadi, sudah waktunya kita sadar diri bahwa perguruan tinggilah tempatnya untuk meningkatkan SKA (skill, knowledge dan attitude). Meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan sikap bangsa yang sejajar dengan bangsa lain. Untuk peningkatan SKA inilah anggaran dibutuhkan sehingga SDM bangsa ini berkembang dan cita-cita almarhum Sophan Sophiaan terwujud dapat mensejahterkan bangsa ini.
Perguruan Tinggi bisa menjadi Sophan Sophiaan baru dan seyogianya semua perguruan tinggi peduli akan SDM bangsa ini. Dengan program dikti yang berkesinambungan, kepedulian parlemen serta pemerintah dan ketaatan bangsa ini kepada peraturan yang berlaku dapat mendorong terwujudnya cita-cita almarhum yang notabene merupakan cita-cita seluruh bangsa di dunia. Semua ini akan kandas lagi bila semua peraturan di Negara ini tidak ditegakan dengan tegas.
Ujung-ujungnya siapakah yang bertanggung jawab akan kesejahteraan bangsa ini?
SELAMAT JALAN SOPHAN SOPHIAAN
Dadang Iskandar
Dosen Institut Manajemen Telkom
Belum ada komentar.
Tinggalkan komentar
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Mei 2008 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS